Ctatan kuliah : Dasar Hukum Adat

BAB I 

Dasar-dasar Hukum Adat




A. Timbulnya Hukum adat

Ø  Usage
        adlh : cara2 dalam melakukan bentuk perbuatan tertentu yg tlh diterima dlm msayarakat
Ø  Folkways
       kebiasaan yg diulang2 dlm melakukan perbuatan ys sama
Ø  Mores (tata kelakuan)
       apabila kebiasaan tsb tdk semata2 dianggap sbg cara berperilaku tetapi diterima sbg kaidah2 pengatur
Ø  Custom (adat istiadat)
       adlh Tata kelakuan yg kekal serta kuat integrasinya dg pola2 kelakuan masya
        - Kaidah yg dkenal, diakui, dihargai dan ditaati, namun tdk mempunyai kekuatan mengikat (binding force) yg dapat dipaksakan
Ø  Living law/ people’s law/ traditional law/ customary law/ hukum rakyat/ adatrecht/ hukum adat
      - kaidah yg berisi perintah, larangan & kebolehan
   Membedakan huklum adat & adat istiadat
-       Secara teoretis dpt dibuat limitasinya
-       Scr praktek sulit dikenali , - suatu norma mrpk hkm adat ato adat istiadat sebab hkm adat mrpk sebagian dr adat istiadat (Solemen B.Taneko, 1987: 5)
     Berbagai pendapat ttg kriteria pembeda:
-       Van vollenhoven : tdk hrs berteori tp hrs meneliti kenyataan
-       Teer Haar : Hkm adat timbul stlh ada penetapan para pejabat hukum. Shg     
                     kretria yg dipakai adlh “penetapan”
-       Soekanto : penerapan sanksi
-       Scr umum utk membedakan hkm adat & adat istiadat sbb:
    1. ada tidaknya keterlibatan petugas hukum
    2. ada tidaknya sanksi
 Leopold Pospisil à hkm mrpkn suatu aktivitas dlm suatu kebudayaan yg memiliki fungsi control social. Utk membedakan hkm dg aktvtas lainnya, ada 4 ciri hukum (Attributes of law)
    1. Attribut of Authority (atribut otoritas/kekuasaan)
     - aktivitas kebudayaan yg disebut hkm adlh keputusan2 melalui sesuatu
     mekanisme yg diberi wewenang & kekuasaan oleh masyarakat
2. Attribut of Intention of Universal Application
    - Keputusan pihak yg berkuasa dimaksudkan utk berlaku jangka panjang
 3. Attribut of Obligation
    - Keputusan pemegang kuasa mengandung perumusan kewajiban pihak kesatu
     thp pihak kedua..begitu sebaliknya
 4. Attribut of Sanction
    - Keputusan pihak yg berkuasa hrs dikuatkan dg sanksi dlm arti yg seluas2nya

B. Pengertian Hukum Adat
 1. Soepomo : hkm yg tdk tertulis dlm peraturan2 legislatif (unstatutory law) meliputi peraturan2 hidup yg meskipun tdk ditetapkan pihak berwajib tyoh ditaati & didukung rakyat berdasar keyakinan bhw peraturan2 tsb mempunyai kekuatan hkm. Hkm adat mrpkn sinonim dr:
     a. unstatutory law
     b. hkm yg hidup sbg konvensi pd badan2 negara (parlemen, Dewan propinsi)
     c. hkm yg timbul krn putusan2 hakim
     d. hkm yg hidup sbg peraturan kebiasaan yg dipertahankan di dlm pergaulan
     hidup baik di kota maupun di desa (customary law)
 2. Djojodigoeno
    - hkm yg tidk besumber kpd peraturan2 (hukum tertulis)
3. Soekanto
    - Kompleks adat2 yg kebanyakan tdk dikitabkan, tdk dikodifikasikan & bersifat paksaan ,mempunyai sanksi, jadi mempunyai akibat hukum
4. Soerjono Soekanto
    - Hukum non statuter yg utk bagian terbesar mrpkn hkm kebiasaan sedangkan  
     utk bagian terkecil terdiri dari hukum agama. Selain itu jg mncakup hukum yg didasarkan pd putusan2 hakim yg berisikan asas2 hkm dlm lingkungan dimana suatu perkara diputuskan
5. Seminar Hukum Adat dan Pembinaan Hukum Nasional
    - hukum Indonesia asli yg tdk tertulis dlm bentuk peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yg disana sini mengandung unsur agama

C. Bentuk dan Sumber Hukum Adat
 - bentuk tdk tertulis, hidup & berkembang sbg penjelmaan perasaan hkm rakyat
Sumber hukum adat  (rechts bron)
    1. Kebiasaan & adat istiadat yg berhubungan dg tradisi rakyat
    2. kebudayaan tradisi rakyat
    3. Ugeran2 yg langsung timbul sbg pernyataan kebudayaan org Indonesia asli, tegasnya sbg pernyataan rasa keadilan dlm hubungan pamrih
    4. Perasaan keadilan dlm hati nurani rakyat

Sumber pengenal (kenbron) hukum adat
    1. Pepatah2 adat
    2. Yurisprudensi adat
    3. Laporan2 dari komisi2 penelitian yg khusus dibentuk.
     Misal: Komisi Mr. W.B.Bergsma yg meneliti hukum tanah di Jawa & Madura
    4. Dokumen2 berisi ketentuan2 hukum yg hidup pd masa itu baik berupa piagam (Pepakem Cirebon), peraturan2 (awig2) maupun keputusan2 (rapang2 makasar)
    5. Buku2 undang2 yg dikeluarkan raja2/sultan2
    6. Buku2 yg ditulis oleh para sarjana, seperti Wilken, Van Vollen Hoven, Hurgronje, Djojodiguno, Hazairin dsb

D. Corak Hukum Adat
sbg suatu sistem nilai, hkm adat memiliki corak yg mrpkn dr nilai2 sosial budaya dalam masyarakat.
Adapun corak2 tsb sbb:
1. Religio Magis
    - Alam semesta sbg wadah memiliki isi yakni elemen2 yg terdiri atas berbagai bentuk yg terwujud maupun tidak, yg masing2 berdiri & berfungsi sendiri tetapi saling berhubungan yg merupakan suatu keseluruhan & satu sama lain saling mempengaruhi. Dlm sgl tingkah lakunya manusia yg mrpkn bagian kecil alam semesta hrs memperhitungkan kekuatan2 yg tidak terlihat (kekuatan2 ghaib). 
2. Comunal (Kebersamaan)
     - Sbg anggota masyarkt kepentingan pribadi sll diimbangi kepentingan2 umum dg lain perkataan hak2 individu dlm hkm adat dimbangi oleh hak2 umum. Contoh: Pemilik sawah hrs mengijinkan air sawah bebas yg berasal dr sawah2 yg lbh tinggi letaknya dialirkan melalui sawahnya atau membolehkan warga menggembalakan ternak diatas sawahnya selam tdk musim tandur
3. Konkrit (Terang, nyata)
     - Cara berfikir yg mencoba agar hal yg dimaksud, diingini & dikehendaki diberi wujud suatu benda sekalipun fungsinya hanya sbg lambang saja              contoh: Dlm hkm adat Jawa Tengah, kata sepakat berbesanan belum mengikat (scr yuridis) hrs ada tanda yg nyata2 terlihat yakni peningset dari pihak laki2 kepada perempuan
4. Kontan (tunai)
     - Corak kontan mrpkn konsekuensi corak konkrit. Karena tiap tindakan dlm hkm adat sll diberi bentuk nyata, maka antara prestasi & kontraprestasi dianggap selesai pada seketika itu pula.

E. Ruang Lingkup Hukum Adat
    - hkm adat sbg hkm tdk tertulis dijumpai pada semua bidang kehidupan masyrkt
1. Soerojo Wignjodipoero, hkm adat sbbi:
    a. Hukum Negara                                                    
    b. Hukum Tata Usaha Negara
    c. Hukum Pidana
    d. Hukum Perdata
    e. Hukum Antar Bangsa Adat
2. Soepomo, hkm adat meliputi:
    a. Hukum Keluarga                                             
    b. Hukum Perkawinan
    c. Hukum Waris
    d. Hukum Tanah
    e. Hukum Hutang piutang
    f. Hukum Pelanggaran
3. Van Vollenhoven, pembidanganya:
    a. Bentuk2 masya hkm adat                                                    
    b. Tentang Pribadi
    c. Pemerintahan & Peradilan
    d. Hukum Keluarga                                            
    e. Hukum Perkawinan
    f. Hukum Waris
    g. Hukum Tanah
    h. Hukum utang piutang
    i.  Hukum delik
    h. Sistem sanksi



BAB II
Perkawinan Adat
Pernikahan Adat Jawa melambangkan pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah dalam suatu suasana yang khusus sehingga pengantin pria dan pengantin wanita seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya perkawinan ini diadakan di rumah orang tua pengantin wanita, orang tua dari pengantin wanita lah yang menyelenggarakan upacara pernikahan ini. Pihak pengantin laki-laki membantu agar upacara pernikahan ini bisa berlangsung dengan baik. Adapun berbagai, macam upacara yg dilakukan menurut perkawinan adat Jawa :

Lamaran

Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orangtua pengantin laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan untuk melamar puteri mereka. Orangtua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Mereka yang memilih perangkat dan bentuk pernikahan. Setiap model pernikahan itu berbeda dandanan dan pakaian untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Kedua mempelai harus mengikuti segala rencana dan susunan pesta pernikahan, seperti Peningsetan, Siraman, Midodareni, Panggih klik Foto Perkawinan.

Persiapan Perkawinan

Segala persiapan tentu harus dilakukan. Dalam Pernikahan Adat jawa yang paling dominan mengatur jalannya upacara pernikahan adalah Pemaes yaitu dukun pengantin wanita yang menjadi pemimpin dari acara pernikahan, Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Karena upacara pernikahan adalah pertunjukan yang besar, maka selain Pemaes yang memimpin acara pernikahan, dibentuk pula Panitia kecil terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai cth lainnya Perkawinan Batak

Pemasangan dekorasi
Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), Yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin yang memiliki arti agar Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Dekorasi(Foto Nikah) yang lain yang disiapkan adalah kembang mayang, yaitu suatu karangan bunga yang terdiri dari sebatang pohon pisang dan daun pohon kelapa.
Siraman
Upacara Midodareni
Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung, dan semuanya harus wanita.klik Foto Perkawinan
Srah Srahan
Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Mereka akan menjadi besan. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan sambil membawa hadiah. Dalam kesempatan ini, kedua keluarga beramah tamah cth lain klik Perkawinan Batak.
BAB III
Hukum Waris Adat

Hukum Waris adalah suatu hukum yang mengatur peninggalan harta seseorang yang telah meninggal dunia diberikan kepada yang berhak, seperti keluarga dan masyarakat yang lebih berhak.
Hukum Waris yang berlaku di Indonesia ada tiga yakni: Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata. Setiap daerah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan sistem kekerababatan yang mereka anut.

BAB IV
Hukum Pidana Adat



Hukum pidana (delik) adat
-          Perbuatan sepihak dr seorang / kumpulan orang, mengancam / menyinggung / mengganggu keseimbangan dlm khidupan persekutuan, bersifat material / immaterial, thdp orang seseorang / terhadap masyarakat brupa kesatuan -}reaksi adat memulihkan keseimbangan.
-          Cara : pembayaran adat berupa barang/uang, selamatan, potong hewan, dll
Jenis delik (v.vollen hoven & soepomo)
1.      Penghianatan
2.      Membuka rahasia masyarakat
3.      Pembakaran
4.      Menghina secara pribadi terhadap kepala adat
5.      Tenung/sihir
6.      Incest/sumbang
7.      Hamil di luar perkawinan
8.      Melarikan perempuan
9.      Zina
10.  Pembunuhan
11.  Jual-beli manusia :dayak, bugis, minang,sulsel
12.  Pemenggalan kepala
13.  Harta benda - pencurian
Delik incest – 4 macam
1.      Pelanggaran terhadap eksogami
2.      Hubungan terlalu dekat menurut hk. Adat
3.      Berlainan kasta
4.      Perkawinan antara orang tua dengan anak
hukuman :       - hampir selalu hukuman mati
                        - paling ringan : diasingkan
minangkabau : dibuang bida’
-          upacara membersihkan kampung halaman
dayak: membersihkan matahari & bulan
batak : membersihkan tanah & air
palembang : membasuh dusun
-          bentuk : penyembelihan kerbau & lembu      kepala adat
Hamil di luar perkawinan
Melalui :- kawin paksa   - kawin darurat
Bugis  : perempuan dibunuh  oleh keluarga sendiri
Sumsel & jawa : - mengawinkan perempuan dengan laki-laki yang menghamili, siapa saja yg bersedia
Aceh  : - perempuan dibunuh/ didenda
Palembang : - denda & membasuh dusun
     Bergubalan : - uang penyinggungan dari laki2 pd perempuan, bila laki2 tidak mau kawin
Perbedaan pemidanaan perbuatan
               Kuhp                              hukum adat
1.      Yang dipidana                 1. Persekutuan hukum
seorang manusia              
2.      Menentang kepent.          3.Perorangan+ neg/umum golongan/kel                                 
 3.   Orang gila tdk di              3. Seor. Gila dianggap =
       pidana                                  orang normal (minas)
5.      Melarang bertindak          5. Boleh bertindak sendiri sendiri
6.      Tdk membedakan                        6. Dibedakan thd benda
       barang yg mjadi                   biasa + benda pusaka
       obyek perb. Pidana              
Pembuangan seseorang  masyarakat – 3 istilah
1.      Buang sirih : karena tabiat–membuat malu keluarga
2.      Buang hutang : hutang – tidak dibayar
3.      Buang ti (ng) karang : berbuat jahat – sering kali
Hak asyl adat
§  Hak meminta perlindungan kpd raja/kepala adat/pemuka agama krn mlakukan delik thd kelwrg
§  Pihak terkena tunduk pada tindakan raja/kepala adat/pemuka agama.
Bisa ditahan : menjadi budak
Uu darurat no. 1/1959, ln thn 1951/nog, tln no 81
§  Hakim desa : berwenang segala perkara menurut hukum adat (incest, hamil seblm nikah)
§  Tetapi dg diberlakukannya uu no 14 thn 1970 : dlm penjelasan disebut bahwa : peradilan adat dihapus
Melarikan laki-laki -} berbunuhan antar keluarga
-          Laki-laki yang melarikan perempuan ke istana/rumah kepala adat/imam
-          Didamaikan oleh raja/kepala adat/imam
Bugis makasar : -laki-laki membayar sunrong/antaran, uang denda, binatang kurban kepada kepala adat.
Zinah : perbuatan melanggar kehormatan keluarga & kepentingan hk. Dari seor. Suami & kepent. Umum, merusak kesucian masyarakat
Sanksi : dayak, aceh, maluku, irian suami membunuh istri + istri yg             berzinah tdk dianggap salah, hrs memberitahu kpl adat.
Pembunuhan : pelanggaran thdp keselamatan &  masy. bayar uang denda kpd pihak istri yg dibunuh.
Sanksi : membayar denda – hewan besar untuk menghindari kutukan bencana




0 komentar:

Posting Komentar

Ctatan kuliah : Dasar Hukum Adat

BAB I 

Dasar-dasar Hukum Adat




A. Timbulnya Hukum adat

Ø  Usage
        adlh : cara2 dalam melakukan bentuk perbuatan tertentu yg tlh diterima dlm msayarakat
Ø  Folkways
       kebiasaan yg diulang2 dlm melakukan perbuatan ys sama
Ø  Mores (tata kelakuan)
       apabila kebiasaan tsb tdk semata2 dianggap sbg cara berperilaku tetapi diterima sbg kaidah2 pengatur
Ø  Custom (adat istiadat)
       adlh Tata kelakuan yg kekal serta kuat integrasinya dg pola2 kelakuan masya
        - Kaidah yg dkenal, diakui, dihargai dan ditaati, namun tdk mempunyai kekuatan mengikat (binding force) yg dapat dipaksakan
Ø  Living law/ people’s law/ traditional law/ customary law/ hukum rakyat/ adatrecht/ hukum adat
      - kaidah yg berisi perintah, larangan & kebolehan
   Membedakan huklum adat & adat istiadat
-       Secara teoretis dpt dibuat limitasinya
-       Scr praktek sulit dikenali , - suatu norma mrpk hkm adat ato adat istiadat sebab hkm adat mrpk sebagian dr adat istiadat (Solemen B.Taneko, 1987: 5)
     Berbagai pendapat ttg kriteria pembeda:
-       Van vollenhoven : tdk hrs berteori tp hrs meneliti kenyataan
-       Teer Haar : Hkm adat timbul stlh ada penetapan para pejabat hukum. Shg     
                     kretria yg dipakai adlh “penetapan”
-       Soekanto : penerapan sanksi
-       Scr umum utk membedakan hkm adat & adat istiadat sbb:
    1. ada tidaknya keterlibatan petugas hukum
    2. ada tidaknya sanksi
 Leopold Pospisil à hkm mrpkn suatu aktivitas dlm suatu kebudayaan yg memiliki fungsi control social. Utk membedakan hkm dg aktvtas lainnya, ada 4 ciri hukum (Attributes of law)
    1. Attribut of Authority (atribut otoritas/kekuasaan)
     - aktivitas kebudayaan yg disebut hkm adlh keputusan2 melalui sesuatu
     mekanisme yg diberi wewenang & kekuasaan oleh masyarakat
2. Attribut of Intention of Universal Application
    - Keputusan pihak yg berkuasa dimaksudkan utk berlaku jangka panjang
 3. Attribut of Obligation
    - Keputusan pemegang kuasa mengandung perumusan kewajiban pihak kesatu
     thp pihak kedua..begitu sebaliknya
 4. Attribut of Sanction
    - Keputusan pihak yg berkuasa hrs dikuatkan dg sanksi dlm arti yg seluas2nya

B. Pengertian Hukum Adat
 1. Soepomo : hkm yg tdk tertulis dlm peraturan2 legislatif (unstatutory law) meliputi peraturan2 hidup yg meskipun tdk ditetapkan pihak berwajib tyoh ditaati & didukung rakyat berdasar keyakinan bhw peraturan2 tsb mempunyai kekuatan hkm. Hkm adat mrpkn sinonim dr:
     a. unstatutory law
     b. hkm yg hidup sbg konvensi pd badan2 negara (parlemen, Dewan propinsi)
     c. hkm yg timbul krn putusan2 hakim
     d. hkm yg hidup sbg peraturan kebiasaan yg dipertahankan di dlm pergaulan
     hidup baik di kota maupun di desa (customary law)
 2. Djojodigoeno
    - hkm yg tidk besumber kpd peraturan2 (hukum tertulis)
3. Soekanto
    - Kompleks adat2 yg kebanyakan tdk dikitabkan, tdk dikodifikasikan & bersifat paksaan ,mempunyai sanksi, jadi mempunyai akibat hukum
4. Soerjono Soekanto
    - Hukum non statuter yg utk bagian terbesar mrpkn hkm kebiasaan sedangkan  
     utk bagian terkecil terdiri dari hukum agama. Selain itu jg mncakup hukum yg didasarkan pd putusan2 hakim yg berisikan asas2 hkm dlm lingkungan dimana suatu perkara diputuskan
5. Seminar Hukum Adat dan Pembinaan Hukum Nasional
    - hukum Indonesia asli yg tdk tertulis dlm bentuk peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yg disana sini mengandung unsur agama

C. Bentuk dan Sumber Hukum Adat
 - bentuk tdk tertulis, hidup & berkembang sbg penjelmaan perasaan hkm rakyat
Sumber hukum adat  (rechts bron)
    1. Kebiasaan & adat istiadat yg berhubungan dg tradisi rakyat
    2. kebudayaan tradisi rakyat
    3. Ugeran2 yg langsung timbul sbg pernyataan kebudayaan org Indonesia asli, tegasnya sbg pernyataan rasa keadilan dlm hubungan pamrih
    4. Perasaan keadilan dlm hati nurani rakyat

Sumber pengenal (kenbron) hukum adat
    1. Pepatah2 adat
    2. Yurisprudensi adat
    3. Laporan2 dari komisi2 penelitian yg khusus dibentuk.
     Misal: Komisi Mr. W.B.Bergsma yg meneliti hukum tanah di Jawa & Madura
    4. Dokumen2 berisi ketentuan2 hukum yg hidup pd masa itu baik berupa piagam (Pepakem Cirebon), peraturan2 (awig2) maupun keputusan2 (rapang2 makasar)
    5. Buku2 undang2 yg dikeluarkan raja2/sultan2
    6. Buku2 yg ditulis oleh para sarjana, seperti Wilken, Van Vollen Hoven, Hurgronje, Djojodiguno, Hazairin dsb

D. Corak Hukum Adat
sbg suatu sistem nilai, hkm adat memiliki corak yg mrpkn dr nilai2 sosial budaya dalam masyarakat.
Adapun corak2 tsb sbb:
1. Religio Magis
    - Alam semesta sbg wadah memiliki isi yakni elemen2 yg terdiri atas berbagai bentuk yg terwujud maupun tidak, yg masing2 berdiri & berfungsi sendiri tetapi saling berhubungan yg merupakan suatu keseluruhan & satu sama lain saling mempengaruhi. Dlm sgl tingkah lakunya manusia yg mrpkn bagian kecil alam semesta hrs memperhitungkan kekuatan2 yg tidak terlihat (kekuatan2 ghaib). 
2. Comunal (Kebersamaan)
     - Sbg anggota masyarkt kepentingan pribadi sll diimbangi kepentingan2 umum dg lain perkataan hak2 individu dlm hkm adat dimbangi oleh hak2 umum. Contoh: Pemilik sawah hrs mengijinkan air sawah bebas yg berasal dr sawah2 yg lbh tinggi letaknya dialirkan melalui sawahnya atau membolehkan warga menggembalakan ternak diatas sawahnya selam tdk musim tandur
3. Konkrit (Terang, nyata)
     - Cara berfikir yg mencoba agar hal yg dimaksud, diingini & dikehendaki diberi wujud suatu benda sekalipun fungsinya hanya sbg lambang saja              contoh: Dlm hkm adat Jawa Tengah, kata sepakat berbesanan belum mengikat (scr yuridis) hrs ada tanda yg nyata2 terlihat yakni peningset dari pihak laki2 kepada perempuan
4. Kontan (tunai)
     - Corak kontan mrpkn konsekuensi corak konkrit. Karena tiap tindakan dlm hkm adat sll diberi bentuk nyata, maka antara prestasi & kontraprestasi dianggap selesai pada seketika itu pula.

E. Ruang Lingkup Hukum Adat
    - hkm adat sbg hkm tdk tertulis dijumpai pada semua bidang kehidupan masyrkt
1. Soerojo Wignjodipoero, hkm adat sbbi:
    a. Hukum Negara                                                    
    b. Hukum Tata Usaha Negara
    c. Hukum Pidana
    d. Hukum Perdata
    e. Hukum Antar Bangsa Adat
2. Soepomo, hkm adat meliputi:
    a. Hukum Keluarga                                             
    b. Hukum Perkawinan
    c. Hukum Waris
    d. Hukum Tanah
    e. Hukum Hutang piutang
    f. Hukum Pelanggaran
3. Van Vollenhoven, pembidanganya:
    a. Bentuk2 masya hkm adat                                                    
    b. Tentang Pribadi
    c. Pemerintahan & Peradilan
    d. Hukum Keluarga                                            
    e. Hukum Perkawinan
    f. Hukum Waris
    g. Hukum Tanah
    h. Hukum utang piutang
    i.  Hukum delik
    h. Sistem sanksi



BAB II
Perkawinan Adat
Pernikahan Adat Jawa melambangkan pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah dalam suatu suasana yang khusus sehingga pengantin pria dan pengantin wanita seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya perkawinan ini diadakan di rumah orang tua pengantin wanita, orang tua dari pengantin wanita lah yang menyelenggarakan upacara pernikahan ini. Pihak pengantin laki-laki membantu agar upacara pernikahan ini bisa berlangsung dengan baik. Adapun berbagai, macam upacara yg dilakukan menurut perkawinan adat Jawa :

Lamaran

Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orangtua pengantin laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan untuk melamar puteri mereka. Orangtua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Mereka yang memilih perangkat dan bentuk pernikahan. Setiap model pernikahan itu berbeda dandanan dan pakaian untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Kedua mempelai harus mengikuti segala rencana dan susunan pesta pernikahan, seperti Peningsetan, Siraman, Midodareni, Panggih klik Foto Perkawinan.

Persiapan Perkawinan

Segala persiapan tentu harus dilakukan. Dalam Pernikahan Adat jawa yang paling dominan mengatur jalannya upacara pernikahan adalah Pemaes yaitu dukun pengantin wanita yang menjadi pemimpin dari acara pernikahan, Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Karena upacara pernikahan adalah pertunjukan yang besar, maka selain Pemaes yang memimpin acara pernikahan, dibentuk pula Panitia kecil terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai cth lainnya Perkawinan Batak

Pemasangan dekorasi
Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), Yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin yang memiliki arti agar Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Dekorasi(Foto Nikah) yang lain yang disiapkan adalah kembang mayang, yaitu suatu karangan bunga yang terdiri dari sebatang pohon pisang dan daun pohon kelapa.
Siraman
Upacara Midodareni
Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung, dan semuanya harus wanita.klik Foto Perkawinan
Srah Srahan
Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Mereka akan menjadi besan. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan sambil membawa hadiah. Dalam kesempatan ini, kedua keluarga beramah tamah cth lain klik Perkawinan Batak.
BAB III
Hukum Waris Adat

Hukum Waris adalah suatu hukum yang mengatur peninggalan harta seseorang yang telah meninggal dunia diberikan kepada yang berhak, seperti keluarga dan masyarakat yang lebih berhak.
Hukum Waris yang berlaku di Indonesia ada tiga yakni: Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata. Setiap daerah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan sistem kekerababatan yang mereka anut.

BAB IV
Hukum Pidana Adat



Hukum pidana (delik) adat
-          Perbuatan sepihak dr seorang / kumpulan orang, mengancam / menyinggung / mengganggu keseimbangan dlm khidupan persekutuan, bersifat material / immaterial, thdp orang seseorang / terhadap masyarakat brupa kesatuan -}reaksi adat memulihkan keseimbangan.
-          Cara : pembayaran adat berupa barang/uang, selamatan, potong hewan, dll
Jenis delik (v.vollen hoven & soepomo)
1.      Penghianatan
2.      Membuka rahasia masyarakat
3.      Pembakaran
4.      Menghina secara pribadi terhadap kepala adat
5.      Tenung/sihir
6.      Incest/sumbang
7.      Hamil di luar perkawinan
8.      Melarikan perempuan
9.      Zina
10.  Pembunuhan
11.  Jual-beli manusia :dayak, bugis, minang,sulsel
12.  Pemenggalan kepala
13.  Harta benda - pencurian
Delik incest – 4 macam
1.      Pelanggaran terhadap eksogami
2.      Hubungan terlalu dekat menurut hk. Adat
3.      Berlainan kasta
4.      Perkawinan antara orang tua dengan anak
hukuman :       - hampir selalu hukuman mati
                        - paling ringan : diasingkan
minangkabau : dibuang bida’
-          upacara membersihkan kampung halaman
dayak: membersihkan matahari & bulan
batak : membersihkan tanah & air
palembang : membasuh dusun
-          bentuk : penyembelihan kerbau & lembu      kepala adat
Hamil di luar perkawinan
Melalui :- kawin paksa   - kawin darurat
Bugis  : perempuan dibunuh  oleh keluarga sendiri
Sumsel & jawa : - mengawinkan perempuan dengan laki-laki yang menghamili, siapa saja yg bersedia
Aceh  : - perempuan dibunuh/ didenda
Palembang : - denda & membasuh dusun
     Bergubalan : - uang penyinggungan dari laki2 pd perempuan, bila laki2 tidak mau kawin
Perbedaan pemidanaan perbuatan
               Kuhp                              hukum adat
1.      Yang dipidana                 1. Persekutuan hukum
seorang manusia              
2.      Menentang kepent.          3.Perorangan+ neg/umum golongan/kel                                 
 3.   Orang gila tdk di              3. Seor. Gila dianggap =
       pidana                                  orang normal (minas)
5.      Melarang bertindak          5. Boleh bertindak sendiri sendiri
6.      Tdk membedakan                        6. Dibedakan thd benda
       barang yg mjadi                   biasa + benda pusaka
       obyek perb. Pidana              
Pembuangan seseorang  masyarakat – 3 istilah
1.      Buang sirih : karena tabiat–membuat malu keluarga
2.      Buang hutang : hutang – tidak dibayar
3.      Buang ti (ng) karang : berbuat jahat – sering kali
Hak asyl adat
§  Hak meminta perlindungan kpd raja/kepala adat/pemuka agama krn mlakukan delik thd kelwrg
§  Pihak terkena tunduk pada tindakan raja/kepala adat/pemuka agama.
Bisa ditahan : menjadi budak
Uu darurat no. 1/1959, ln thn 1951/nog, tln no 81
§  Hakim desa : berwenang segala perkara menurut hukum adat (incest, hamil seblm nikah)
§  Tetapi dg diberlakukannya uu no 14 thn 1970 : dlm penjelasan disebut bahwa : peradilan adat dihapus
Melarikan laki-laki -} berbunuhan antar keluarga
-          Laki-laki yang melarikan perempuan ke istana/rumah kepala adat/imam
-          Didamaikan oleh raja/kepala adat/imam
Bugis makasar : -laki-laki membayar sunrong/antaran, uang denda, binatang kurban kepada kepala adat.
Zinah : perbuatan melanggar kehormatan keluarga & kepentingan hk. Dari seor. Suami & kepent. Umum, merusak kesucian masyarakat
Sanksi : dayak, aceh, maluku, irian suami membunuh istri + istri yg             berzinah tdk dianggap salah, hrs memberitahu kpl adat.
Pembunuhan : pelanggaran thdp keselamatan &  masy. bayar uang denda kpd pihak istri yg dibunuh.
Sanksi : membayar denda – hewan besar untuk menghindari kutukan bencana




0 komentar:

Posting Komentar