Soal 1 : Apakah
protestan ethic hanya ada di Calvanisme?
Etika
Protestan (Protetan Ethic) adalah
sebuah konsep dan teori dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang
mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya
disekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam agama Protestan yang dikembangkan
oleh Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya
sebelum masuk ke surga atau ke neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah
manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia. Adanya
kepercayaan ini membuat penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk
meraih sukses.[1]
Hal ini yang disebut sebagai Etika Protestan oleh
Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yakni cara bekerja
yang keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Teori ini
merupakan faktor utama munculnya kapitalisme di Eropa. Untuk selanjutnya Etika
Protestan menjadi konsep umum yang bisa berkembang di luar agama Protestan itu
sendiri. Etika Protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih
untuk mencapai sukses. Jadi, konsep Etika Protestan sudah tidak menjadi konsep
milik Calvin khususnya agama protestan namun sudah digunakan oleh masyarakat
non Protestan.
Dalam bukunya “The Protestant ethic and the spirit
of capitalism” menjelaskan bahwa : aspek-aspek tertentu dalam etika protestan
merupakan perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan syistem ekonomi
kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya. Pengaruhnya ini yang disebut dengan
“Elective Affinity” yaitu konsistensi logis dan pengaruh motivasional yang
mendukung secara timbal balik antara tuntutan etis tertentu yang berasal dari
kepercayaan protestan dan pola-pola motivasi ekonomi yang perlu untuk
pertumbuhan sistem kapitalisme.
Weber tidak mengatakan bahwa kapitalisme disebabkan
oleh protestantisme ataupun adanya hubungan sebab akibat, hanya saja konsep ini
berhubungan dengan kesesuaian logis dan konsistensi psikologis dimana keduanya
saling mendukung. Dengan adanya elective affinity antara etika protestan dan
semangat kapitalisme berarti bahwa jenis motivasi yang timbul karena menerima
kepercayaan itu dan tuntutan etis protestantisme membantu merangsang jenis
perilaku yang dibutuhkan atas lahirnya kapitalisme borjuis modern.
Protestantisme maupun kapitalisme merupakan suatu pandangan yang rasional dan
sistematis.
Etika Protestan memberi tekanan pada usaha
menghindari kemalasan atau kenikmatan semaunya dan menekankan kerajinan dalam
melaksanakan tugas dalam semua segi kehidupan, khususnya dalam pekerjaan dan
kegiatan ekonomi pada umumnya. Sedangkan Kapitalisme modern menuntut untuk
membatasi kosumsi supaya uang yang ada itu di investasi kembali dan untuk
pertumbuhan modal, menuntut kesediaan untuk tunduk pada disiplin perencanaan
yang sistematis untuk tujuan-tujuan dimasa mendatang, bekerja secara teratur
dalam suatu pekerjaaan, dan sebagainya. Maka dapat disimpulkan bahwa etika
protestan merangsang atau mendorong kapitalisme namun bukanlah ini merupakan
satu-satunya faktor, walaupun ia memang mementingkan faktor tersebut namun
faktor lain juga sangat penting termasuk didalamnya kondisi-kondisi materil dan
kepentingan-kepentingan ekonomi. Dalam ajaran Calvanisme, mengenai etika
protestan tidak cenderung berhubungan mengenai agam Protestan melainkan
mengenai cara untuk menghindari kemalasan untuk mndapatkan tujuan hidupa
khususnya dalam bidang ekonomi.
Soal 2 : Ada atau tidak
protestan ethic pada agama lain?
è Adanya Etika Protestan
dalam agama Islam
Ajaran yang termuat dalam etika protestan yang
mengajaran kebaikan dalam diri umatnya juga terdapat dalam agama Islam. Islam
juga tidak berbeda ajarannya dengan protestan, Islam juga mengajarkan
keseimbangan duniawi, disiplin, hidup tidak boros, mubazir dan selalu berusaha
keras untuk mendapatkan perubahan nasib di dunia sehingga tercapainya
kesejahteraan, akan tetapi pandangan materialistik yang kuat dan berlebihan
pada etika protestan memang tidak ada di ajaran agama Islam. Islam tidak pernah
mengenal istilah”memperanakan uang” atau sejenisnya yang mana modal hanya dapat
di investasikan bagi pengusaha-pengusaha besar saja sehingga dapat menimbulkan
keuntungan sepihak karena munculnya usaha-usaha raksasa bagi pemilik modal yang
kuat saja, sedangkan bagi pengusaha kecil itu dianggap tidak begitu penting.
Etika protestan memperlihatkan suatu orientasi agama
yang bersifat asketik dalam dunia (inner worldly) yang jauh lebih lengkap dari
pada agama besar apapun. Asketisme dalam dunia (inner worldly asceticism)
menunjuk pada komitmen untuk menolak kesempatan ( sangat membatasi diri ) untuk
menuruti keinginan fisik atau inderawi, atau kenikmatan yang bersifat
spiritual, tujuan spiritual itu harus dicapai melalui sutu komitmen yang
sistematis dan rajin dalam melaksanakan tugas didunia ini.
Etika protestan menekankan suatu gaya hidup dimana
kenikmatan iderawi dan materil dikontrol dengan teliti dan sistematis,
dipandang dari segi apaun orientasi mereka yang bersifat inner worldly itu
tidak ada hubungannya dengan hedonisme ( yang suka akan kesenangan saja),
sebaliknya agama protestan disaat-sat awalnya sangat sadar bahwa menuruti
keinginan hawa nafsu badaniah dapat mengalihkan perhatian orang dari kehidupan
spritualnya, dan merupakan ancaman terus menerus bagi jiwa.
Gambaran dari umat protestan ini adalah orang yang
sangat setia pada tugas pekerjaannya yang diliht sebagai tugas agama, dan
demikian pula mereka yang secara sistematis mendisiplikan kehidupannya untuk
mengontrol keinginan fisik dan nafsunya.
Intinya, jenis pola motifasi yang dibutuhkan untuk
membangun kapitalisme dari ajaran etika protestan yaitu kesetiaaan pada
tugas-tugas pekerjaan, membatasi konsumsi, dorongan prstasi yang kuat, dan gaya
hidup yang sangat rasional dan sistematis merupakan elemen-elemen yang terdapat
baik dalam protestantisme maupun dalam kapitalisme.
Etika protestan juga mengajarkan bahwa ide-ide masa
lalu yang mengatakan bahwa uang tidak dapat menghasilkan uang ditampiknya
dengan keras, malahan usaha-usaha ekonomi dapat berkembang dan meluas jika
adanya usaha memperanakkan uang, yaitu kalau bunga dikenakan pada pinjaman
orang miskin untuk mempertahankan hidupnya dapat dilihat sebagai bentuk
eksploitasi, akan tetapi jika bunga atas pinjaman yang dikenakan pada pedagang
usaha untuk memperanakkan uang itu maka dapat diterima sehingga akibatnya
adalah terbukanya kemungkinan baru untuk akumulasi modal dan membiayai
usaha-usaha raksasa melalui kredit, semuanya dilihat dalam kerangka etika
protestan.



0 komentar: